Pegadaian
Sabtu, 28 Mei 2016 | 01:01 WIB

Karen Agustiawan: Dirut Perempuan Pertama Pertamina

Jumat, 20 Juli 2012 / sosok / lutfil khakim
Karen Agustiawan: Dirut Perempuan Pertama Pertamina

Ir. Galaila Karen Agustiawan atau lebih dikenal dengan Karen Agustiawan merupakan Direktur Utama perempuan pertama yang memimipin PT Pertamina (Persero) sejak BUMN tersebut berdiri pada 1968. Perempuan kelahiran Bandung, 19 Oktober 1958 ini diangkat sebagai Dirut menggantikan Ari H. Soemarno. Karen, juga merangkap Direktur Hulu hingga 2010.

Adalah Sofyan Djalil yang waktu itu merupakan Menteri Negara BUMN yang memilih Karen untuk menahkodai perusahaan migas terbesar diIndonesia ini. Menurut Sofyan Karen dinilai cukup kompeten untuk menduduki jabatan sebagai Dirut Pertamina. Meneg BUMN ini menyebut dari uji kompetensi maupun interview yang telah dilakukan terhadap beberapa calon Dirut Pertamina hanya Karen yang memenuhi kriteria. Ia menilai Karen juga memiliki track record yang lumayan bagus.

Menurut Djalil, Karen memiliki kemampuan teknis di bidang hulu perminyakan. Sehingga dengan kepemimpinannya, diharapkan Pertamina bisa memproduksi lebih banyak minyak. Selain itu, kata Djalil, Karen waktu itu juga disandingkan dengan Omar S. Anwar sebagai Wakil Direktur Utama PT Pertamina yang kompeten di bidang bisnis. Sebelumnya Omar menjabat Dirut PT Rio Tinto.

Djalil mengatakan, diangkatnya Karen merupakan upaya penyegaran di Pertamina untuk mengejar misi menjadi perusahaan migas kelas dunia (world class company). Djalil menambahkan, dipilihnya Karen yang sebelumnya menjabat direktur hulu karena pemerintah menginginkan Pertamina bisa mendongkrak kinerja produksi migas. Sebab, katanya, sektor hulu inilah yang menjadi sumber keuntungan dan pertumbuhan perusahaan.

Sebelum Karen dipilih, bursa calon Dirut Pertamina diramaikan sejumlah nama, antara lain, Direktur Pemasaran dan Niaga Achmad Faisal, Direktur Umum dan SDM Waluyo, mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Mentamben Kuntoro Mangkusubroto, dan mantan Senior VP JP Morgan Indonesia Gita Wirjawan.

Inilah sebuah babak baru kepemimpinan Pertamina. Selama 44 tahun sejak berdiri 1968, BUMN terbesar di tanah air itu selalu dipimpin laki-laki.. Mulai dari Ibnu Sutowo, Piet Haryono, Joedo Soembono, AR Ramli, Faisal Abda'oe, Soegianto, Martiono Hadianto, Baihaki Hakim, Ariffi Nawawi, dan Ari Soemarno.

Adapun waktu itu, Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro yang pertama kali mengusulkan nama Karen. Sebab, Karen dinilai memiliki kapasitas dan kapabilitas di bidang perminyakan yang memang mumpuni. Karen, ibu tiga orang anak, itu sebagai Dirut untuk sementara merangkap direktur hulu. ''Tapi, nanti Dirut segera menunjuk pelaksana tugas,'' kata Purnomo.

Menteri ESDM Purnomo juga menambahkan, sejak awal pihaknya selaku kementerian teknis memang ingin Pertamina dipimpin orang-orang yang mengerti betul sektor migas. ''Artinya, pemimpin Pertamina harus menguasai teknis migas,'' ujarnya.

Dengan background sektor hulu, kata dia, Karen diharapkan bisa mendongkrak produksi migas Pertamina. Meski demikian, lanjut dia, persoalan sektor hilir berupa penyediaan dan pendistribusian BBM maupun elpiji juga harus menjadi prioritas. ''Masih banyak yang harus diperbaiki dalam distribusi BBM. Itu agar kelangkaan yang beberapa kali terjadi tidak terulang,'' tegasnya.

Enam Program Kerja

Setelah dilantik, Karen Agustiawan, menetapkan enam program kerjanya. Pertama, akan tetap melanjutkan program kerja jangka panjang yang sudah ditetapkan pimpinan Pertamina sebelumnya. Kedua, program utama setiap direktorat akan dilakukan dengan mengedepankan aspek efektif, efisien dan keselamatan operasi.

Ketiga, aspek distribusi dan keamanan pasokan BBM, elpiji dan biofuel akan diupayakan dan dijadikan prioritas utama. Keempat, pengusahaan sektor hulu akan ditingkatkan porsinya karena tahun lalu sektor tersebut menyumbang laba terbesar bagi perseroan.

Kelima, transformasi Pertamina menuju perbaikan yang sudah dimulai Mantan Direktur Utama Pertamina Ari Hernanto Soemarno tidak boleh berhenti. Keenam, seluruh pekerja Pertamina harus tetap mempertahankan momentum perubahan, bersikap terbuka, jujur, berani, dan profesional.

Adapun serangkaian transformasi itu menurut Karen yaitu, Perubahan Paradigma Manajemen dan Sumberdaya Manusia. Transformasi Kegiatan Usaha di Sektor Hulu sebagai Penghasil Pendapatan Utama Perusahaan. Transformasi Kegiatan Usaha di Sektor Hilir sebagai Ujung Tombak Perusahaan dalam Interaksi dengan Konsumen. Transformasi Restrukturisasi Korporat: Keuangan, SDM, Hukum, IT, dan Administrasi Umum, termasuk Penanganan Asset. Sehingga dalam transformasi yang dilakukan bertujuan untuk menjadi perusahaan panutan (role model) di Indonesia.

Karen juga menegaskan, proses transformasi yang sudah dirintis direksi sebelumnya tidak boleh berhenti meski pucuk pimpinan Pertamina dan jajaran komisaris berubah. ''Kita harus meneruskan apa yang sudah dirintis Pak Ari dan Pak Iin (mantan Wadirut Iin Arifin Takhyan). Langkah-langkah yang