Hemorograd
Minggu, 26 Oktober 2014 | 03:35 WIB

Karen Agustiawan: Dirut Perempuan Pertama Pertamina

Jumat, 20 Juli 2012 / sosok / lutfil khakim
Karen Agustiawan: Dirut Perempuan Pertama Pertamina

Ir. Galaila Karen Agustiawan atau lebih dikenal dengan Karen Agustiawan merupakan Direktur Utama perempuan pertama yang memimipin PT Pertamina (Persero) sejak BUMN tersebut berdiri pada 1968. Perempuan kelahiran Bandung, 19 Oktober 1958 ini diangkat sebagai Dirut menggantikan Ari H. Soemarno. Karen, juga merangkap Direktur Hulu hingga 2010.

Adalah Sofyan Djalil yang waktu itu merupakan Menteri Negara BUMN yang memilih Karen untuk menahkodai perusahaan migas terbesar diIndonesia ini. Menurut Sofyan Karen dinilai cukup kompeten untuk menduduki jabatan sebagai Dirut Pertamina. Meneg BUMN ini menyebut dari uji kompetensi maupun interview yang telah dilakukan terhadap beberapa calon Dirut Pertamina hanya Karen yang memenuhi kriteria. Ia menilai Karen juga memiliki track record yang lumayan bagus.

Menurut Djalil, Karen memiliki kemampuan teknis di bidang hulu perminyakan. Sehingga dengan kepemimpinannya, diharapkan Pertamina bisa memproduksi lebih banyak minyak. Selain itu, kata Djalil, Karen waktu itu juga disandingkan dengan Omar S. Anwar sebagai Wakil Direktur Utama PT Pertamina yang kompeten di bidang bisnis. Sebelumnya Omar menjabat Dirut PT Rio Tinto.

Djalil mengatakan, diangkatnya Karen merupakan upaya penyegaran di Pertamina untuk mengejar misi menjadi perusahaan migas kelas dunia (world class company). Djalil menambahkan, dipilihnya Karen yang sebelumnya menjabat direktur hulu karena pemerintah menginginkan Pertamina bisa mendongkrak kinerja produksi migas. Sebab, katanya, sektor hulu inilah yang menjadi sumber keuntungan dan pertumbuhan perusahaan.

Sebelum Karen dipilih, bursa calon Dirut Pertamina diramaikan sejumlah nama, antara lain, Direktur Pemasaran dan Niaga Achmad Faisal, Direktur Umum dan SDM Waluyo, mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Mentamben Kuntoro Mangkusubroto, dan mantan Senior VP JP Morgan Indonesia Gita Wirjawan.

Inilah sebuah babak baru kepemimpinan Pertamina. Selama 44 tahun sejak berdiri 1968, BUMN terbesar di tanah air itu selalu dipimpin laki-laki.. Mulai dari Ibnu Sutowo, Piet Haryono, Joedo Soembono, AR Ramli, Faisal Abda'oe, Soegianto, Martiono Hadianto, Baihaki Hakim, Ariffi Nawawi, dan Ari Soemarno.

Adapun waktu itu, Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro yang pertama kali mengusulkan nama Karen. Sebab, Karen dinilai memiliki kapasitas dan kapabilitas di bidang perminyakan yang memang mumpuni. Karen, ibu tiga orang anak, itu sebagai Dirut untuk sementara merangkap direktur hulu. ''Tapi, nanti Dirut segera menunjuk pelaksana tugas,'' kata Purnomo.

Menteri ESDM Purnomo juga menambahkan, sejak awal pihaknya selaku kementerian teknis memang ingin Pertamina dipimpin orang-orang yang mengerti betul sektor migas. ''Artinya, pemimpin Pertamina harus menguasai teknis migas,'' ujarnya.

Dengan background sektor hulu, kata dia, Karen diharapkan bisa mendongkrak produksi migas Pertamina. Meski demikian, lanjut dia, persoalan sektor hilir berupa penyediaan dan pendistribusian BBM maupun elpiji juga harus menjadi prioritas. ''Masih banyak yang harus diperbaiki dalam distribusi BBM. Itu agar kelangkaan yang beberapa kali terjadi tidak terulang,'' tegasnya.

Enam Program Kerja

Setelah dilantik, Karen Agustiawan, menetapkan enam program kerjanya. Pertama, akan tetap melanjutkan program kerja jangka panjang yang sudah ditetapkan pimpinan Pertamina sebelumnya. Kedua, program utama setiap direktorat akan dilakukan dengan mengedepankan aspek efektif, efisien dan keselamatan operasi.

Ketiga, aspek distribusi dan keamanan pasokan BBM, elpiji dan biofuel akan diupayakan dan dijadikan prioritas utama. Keempat, pengusahaan sektor hulu akan ditingkatkan porsinya karena tahun lalu sektor tersebut menyumbang laba terbesar bagi perseroan.

Kelima, transformasi Pertamina menuju perbaikan yang sudah dimulai Mantan Direktur Utama Pertamina Ari Hernanto Soemarno tidak boleh berhenti. Keenam, seluruh pekerja Pertamina harus tetap mempertahankan momentum perubahan, bersikap terbuka, jujur, berani, dan profesional.

Adapun serangkaian transformasi itu menurut Karen yaitu, Perubahan Paradigma Manajemen dan Sumberdaya Manusia. Transformasi Kegiatan Usaha di Sektor Hulu sebagai Penghasil Pendapatan Utama Perusahaan. Transformasi Kegiatan Usaha di Sektor Hilir sebagai Ujung Tombak Perusahaan dalam Interaksi dengan Konsumen. Transformasi Restrukturisasi Korporat: Keuangan, SDM, Hukum, IT, dan Administrasi Umum, termasuk Penanganan Asset. Sehingga dalam transformasi yang dilakukan bertujuan untuk menjadi perusahaan panutan (role model) di Indonesia.

Karen juga menegaskan, proses transformasi yang sudah dirintis direksi sebelumnya tidak boleh berhenti meski pucuk pimpinan Pertamina dan jajaran komisaris berubah. ''Kita harus meneruskan apa yang sudah dirintis Pak Ari dan Pak Iin (mantan Wadirut Iin Arifin Takhyan). Langkah-langkah yang sudah direncanakan harus diimplementasikan agar target Pertamina menjadi world class company bisa tercapai,'' jelasnya.

Karen memang dikenal dekat dengan Ari H. Soemarno. Bahkan, yang meminta Karen bergabung dengan Pertamina sebagai staf ahli Dirut Pertamina di bidang hulu (eksplorasi dan produksi) migas pada Desember 2006 adalah Ari.

Maklum, Karen sudah malang melintang di industri migas sejak 1984. Setelah menamatkan sarjana ilmu teknik fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1978-1ui983, Karen langsung memulai karir di industri migas bergabung dengan MobilOil Indonesia, menjadi analis dan programmer dalam pemetaan sistem eksplorasi selama 1984-1986. Posisi Karen meningkat menjadi seismic processor and quality controller MobilOil Indonesia untuk beberapa proyek seismik Rokan, Sumatera Utara, dan Madura pada 1987-1988.

Selanjutnya, 1989-1992, karir Karen naik saat ditugaskan MobilOil Dallas ke AS, menjadi seismic processor dan seismic interpreter untuk beberapa proyek di mancanegara. Tahun 1992-1993, Karen kembali ke tanah air untuk menjadi project leader di bagian eksplorasi MobilOil yang menangani seluruh aplikasi studi G & G dan infrastruktur.

Setelah itu, 1993-1994, Karen sempat meninggalkan dunia migas saat mengikuti suaminya, Herman Agustiawan (anggota Dewan Energi Nasional dari unsur konsumen) untuk mengambil program doktoral di Southern Methodist University, Dallas, AS.

Dua tahun di AS, Karen kembali terjun ke industri migas pada 1994-1996. Dia kembali masuk ke MobilOil Indonesia untuk meneruskan tugas sebagai project leader di bagian eksplorasi. Setelah itu, pada akhir 1996, Karen keluar dari MobilOil Indonesia yang kini sudah diakuisisi Exxon dan bergabung menjadi ExxonMobil Oil Indonesia.

Pada 1998, Karen kembali terjun ke industri migas, menjadi product manager G & G and data management applications di CGG Petrosystems Indonesia. Ia bertanggung jawab atas pengembangan bisnis dan pemasaran perusahaan-perusahaan migas, termasuk Pertamina.

Setahun kemudian Karen bergabung Landmark Concurrent Solusi Indonesia sebagai spesialis pengembangan pasar dan integrated information management (IIM). Kemudian, tahun 2000, ia diangkat menjadi business development manager untuk beberapa klien seperti ExxonMobil, Pertamina, BP Migas, dan Ditjen Migas Departemen ESDM. Pada kesempatan ini Karen sukses menjalankan beberapa studi eksplorasi untuk beberapa unit bisnis Pertamina, antara lain di Jambi, Cepu, dan Prabumulih.

Setelah itu, pada 2002-2006, Karen menapaki karir baru dengan bergabung ke perusahaan konsultan migas Halliburton Indonesia sebagai commercial manager for consulting and project management. Jabatan yang antara lain meliputi tanggung jawab pembinaan hubungan dengan Departemen ESDM, BP Migas, dan Ditjen Migas, termasuk Pertamina. Jabatan ini membuatnya lebih mengenal para pejabat tinggi di sektor migas.

Dengan pengalaman yang sedemikian hebat di bidang migas, Ari H. Soemarno yang saat itu menjabat Dirut Pertamina, mengangkat Karen sebagai staf ahli sejak Desember 2006. Kemudian, pada Maret 2008, pemerintah mengangkatnya sebagai direktur hulu menggantikan Sukusen Soemarinda. Belum setahun, Karen sudah dipercaya menduduki posisi puncak Pertamina, BUMN terbesar di Indonesia.

Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang MIGAS baru, Pertamina kini tidak lagi menjadi satu-satunya perusahaan yang memonopoli industri MIGAS dimana kegiatan usaha minyak dan gas bumi diserahkan kepada mekanisme pasar. Untuk itu dalam tata kelola perusahaan Pertamina menerapkan budaya 6 C yaitu, Clean (Bersih) Competitive (Kompetitif), Confident (Percaya Diri), Customer Focused (Fokus Pada Pelanggan), Commercial (Komersial), dan Capable (Berkemampuan).

Karen juga menegaskan tidak akan menerima intervensi dari pihak mana pun dalam melaksanakan tugasnya. Kalau misalnya intervensi tersebut merugikan perseroan dan negara. "Saya minta kewenangan penuh tanpa intervensi dalam melaksanakan tugas. Kalau intervensi merugikan Pertamina dan negara tidak akan saya layani," tegasnya.

Bukan main-main, setelah masuknya Karen memimpin Pertamina, Karen yang tetap meneruskan program yang dilakukan pendahulunya sejak Juli - 31 Desember 2006 silam, kini telah berhasil membawa perubahan diantaranya, Gelombang pertama dari 27 Breakthrough Projects (proyek-proyek terobosan) dalam 100 hari menghasilkan pendapatan tambahan kurang lebih USD 15 juta.

Identifikasi potensi penurunan biaya sebesar Rp 2 trilyun dalam supply chain melalui peningkatan efisiensi distribusi BBM. 5 SPBU telah mencapai standard "Pertamina Way", sesuai dengan sertifikasi BVI (Biro Veritas Indonesia), dengan target dapat mengimplementasikan "Pertamina Way" di 100 SPBU di DKI dan sekitarnya pada bulan Maret 2007.

Roll out jaminan kualitas dan kuantitas di SPBU. Program tersebut telah diimplementasikan di 5 SPBU percontohan dan nilai yang dihasilkan jika program tersebut selesai akan mencapai Rp. 800 milyar. Kerjasama dengan berbagai perusahaan minyak dan gas dunia; diantaranya telah membawa berbagai hasil, misalnya pembangunan lube oil plant di Dumai dengan SK Corp, joint-bidding di sektor hulu dengan Statoil, kerjasama di bidang aviasi dengan Shell.

Hasil dari Breakthrough Projects (Proyek-proyek terobosan) gelombang pertama yang sukses hingga saat ini antara lain: Perolehan US$ 11 s/d. 11.5 juta dari Pengembangan pondok tengah. First oil production dapat dilakukan 2 bulan lebih awal dari rencana awal berdasarkan POD yang telah disetujui oleh BP Migas.

Produksi rata-rata 1.500 BOPD sejak tanggal 9 Agustus 2006 dan 3.000 BOPD sejak 24 Oktober 2006. Mengurangi depot kritis. Perolehan US$ 2.5 s/d. 2.8 juta dari pengolahan LSWR ke RCC/FC: Pengiriman dan pengolahan LSWR selama bulan Agustus sampai dengan Oktober 2006 rata-rata mencapai 209 MB per bulan (lebih dari target 200 MB perbulan). Perolehan Rp. 3 s/d. 3.5 Milyar penghematan dari transportation loss control: Target penurunan transportation loss dari 0.15 % menjadi 0.1% (20 kapal). Guh

Dibaca : 936 kali
Workshop 31 Oktober 2014
Satyo Fatwan : Membangun Organisasi Yang Great
"Batik tak lagi seperti dulu. Penetapan batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO menimbulkan euforia baru di kalangan masyarakat Indonesia. Baik kalangan menengah-bawah hingga atas ..."
SIGNUP FOR NEWSLETTER
Workshop Interpretasi kebijakan penyusunan RKAP dan KPI di BUMN dan anak perusahaan BUMN
Teh Walini_2